Drop Out  

Selamat bagi anda mahasiswa baru yang telah lulus UMB. Juga yang lulus SNMPTN. Perjuangan anda untuk masuk perguruan tinggi tercapai. Jangan bermalas-malasan. Masih ada ancaman DO.
Dalam pelaksanaan pendidikan di perguruan tinggi dikenal istilah ‘drop out’. Pemahaman mahasiswa singkat saja. Drop out yang disingkat DO artinya mahasiswa dikeluarkan dari sebuah perguruan tinggi. Statusnya bukan lagi mahasiswa. Sehingga segala hak dan kewajibannya saat berstatus mahasiswa pun hilang dengan sendirinya.
Dalam aturan universitas ”mungkin” istilah DO tidak kita jumpai. Sebab istilah dalam kamus bahasa inggris yang berarti keluar ini, dituliskan dengan istilah ’putus studi’. Prihatin, mungkin itulah kata yang bisa kita ungkapkan. Seorang anak yang diharapkan bisa menambah ilmu dan pengetahuannya justru harus didepak dari kampusnya. Apa gerangan yang membuat mereka harus putus studi ?
Tidak memiliki biaya
Mahasiswa yang berasal dari keluarga berkecukupan termasuk ke dalam golongan ini. Setelah masuk ke dalam lingkungan kampus. Mahasiswa pastinya akan digerogoti dengan banyaknya pembayaran. Olehnya dibutuhkan biaya untuk membayar itu semua. Selain harus sibuk menghadiri kuliah dan mengerjakan tugas kampus. Mahasiswa yang tidak mampu secara ekonomi akan selalu dihantui, tiap kali ada tagihan membiayai pendidikannya.
Karena sadar bahwa orang tuanya tidak sanggup membiayai kuliahnya. Mahasiswa yang punya keinginan besar mendapatkan ilmu terpaksa harus bekerja. Mendapatkan uang agar bisa membayar setiap keperluan kuliahnya. Disamping itu Dia harus berjuang untuk sekadar hidup dengan membeli makan. Belum lagi harus mencari tempat tinggal. Yang saat ini biaya sewanya mencapai jutaan per tahun.
Umumnya mahasiswa seperti ini memiliki kemampuan akademik baik. Namun diperhadapkan pada kondisi antara kuliah atau bekerja. Pikiran dan tenaganya pun terbagi. Padatnya aktivitas dan tugas perkuliahan membuat Dia harus pintar membagi waktu. Siang waktunya digunakan untuk kuliah, malamnya dia gunakan untuk mendapatkan uang dengan bekerja. Atau sebaliknya. Tepatnya bekerja paruh waktu.
Banyak mahasiswa yang membiayai kuliahnya dengan bekerja. Dan berhasil menyelesaikan pendidikannya. Namun, tidak sedikit pula yang harus pasrah dikeluarkan akibat terjerat evaluasi jumlah satuan kredit semester (sks) dan nilai indeks prestasi yang telah ditentukan tiap semesternya. Karena tidak mampu memenuhi beban studinya, terpaksa dia harus dikeluarkan.

Organisasi
Injury time. Itulah kondisi yang sering mengintai para organisatoris. Cerdas dan punya jiwa sosial yang tinggi. Sehingga gelar aktivis pun dengan sendirinya mereka sandang. Bergelut dengan buku. Kesehariannya dipenuhi dengan kajian, diskusi serta mengatur strategi. Membangun sebuah perubahan yang didasarkan pada nilai-nilai ilmiah dan semangat kemanusiaan. Retorika, cita dan cinta di kampus menjadi pengalaman tersendiri buat mereka. Sehingga terkadang lupa. Wasit sebentar lagi meniup peluit pertanda masa studi mereka bakal usai.
Lampu kuning sebentar lagi berubah merah. Namun, bagi mahasiswa yang pintar mengatur waktunya. Organisasi bukanlah halangan. Justru menjadi nilai tambah tersendiri bagi mereka. Sehingga banyak juga aktivis mahasiswa yang mampu menyelesaikan kuliahnya. Meski tidak bisa dimungkiri, kalau ada juga aktivis mahasiswa yang harus terdepak dari kampus karena masa studi yang diberikan kepada mereka telah habis. Aktivis seperti ini biasanya, menganggap gelar tidak lagi menjadi tujuan. Sebab pengetahuan menurut mereka bisa didapatkan tidak hanya di bangku kuliah. Meski demikian, sikap para aktivis kampus seperti ini telah membuat citra bahwa organisasilah yang membuat mereka tidak sempat menyelesaikan kuliahnya. Imbasnya, banyak mahasiswa yang paranoid. Takut berorganisasi. Padahal dengan berorganisasi, banyak hal yang tidak kita temukan di bangku kuliah bisa kita peroleh. Belajar manajemen dan kepemimpinan adalah salah satunya. Sehingga sayang, bagi mereka yang mempunyai bakat sebagai pemimpin harus keluar tanpa menyandang gelar sarjana. Meski gelar bukanlah patokan kesuksesan seseorang.

Menikah
Mahasiswa yang terpaksa berhenti dari kuliahnya juga bisa diakibatkan karena keburu menikah atau dinikahkan. Umumnya tipe mahasiswa seperti ini semangat kuliahnya memang tidak begitu kuat. Saat-saat kuliah mereka biasanya sudah pacaran. Baik bertemu kekasihnya di kampus atau di daerah tempat mereka berasal. Keinginan untuk selalu berdua bersama kekasihnya memaksa mereka untuk memilih menikah. Atau bisa jadi dinikahkan.
Syahdan, rutinitas kuliah tidak lagi dipikirkan oleh mereka yang sudah menikah. Apalagi bagi mahasiswi yang telah mengandung selepas menikah. Kondisi memaksa mereka untuk selalu berada di rumah. Merawat suami juga kandungannya. Di sisi lain juga terjadi perubahan prilaku. Sebelum menikah mereka bisa bergaul dengan siapa saja. namun setelah memiliki akta nikah, ruang lingkup pergaulan mereka menjadi terbatas. Semua tugas kuliah harus diselesaikan saat siang hari. Waktunya pun sangat sempit. Sebab bagi yang mahasiswi, mereka harus segera pulang menjalani profesinya sebagai seorang istri dan ibu bagi anaknya.
Kuliah bagi mereka yang telah menikah muda umumnya hanya memikirkan bagaimana agar segera mendapatkan ijazah. Itupun jika mereka sanggup menjalaninya. Jika tidak, pilihan terakhir adalah mengundurkan diri dari bangku kuliah. Memilih berkarir di rumah. Bekerja menghidupi keluarga. Dan berharap suami yang meneruskan kuliahnya agar bisa mendapat pekerjaan guna menghidupi keluaga.

Semua ada solusinya
Saat ini proses penerimaan mahasiswa baru di seluruh perguruan tinggi telah dimulai. Bagi anda mahasiswa baru, tidak perlu khawatir dengan ancaman DO. Jangan juga takut untuk bekerja sambil kuliah, menikah dan aktif di lembaga kemahasiswaan. Sebab nyatanya banyak juga mahasiswa yang melakoni hal tersebut bisa selesai dan sukses tentunya. Semua manusia pada dasarnya pintar. Cuman satu hal yang terkadang membuat mereka gagal. Malas.
Apapun aktivitas anda saat menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Hilangkanlah rasa malas dalam benak anda. Semakin banyak aktivitas dan kesibukan justru baik dalam menambah wawasan. Seperti kata Einstein, ”akarnya memang pahit, tapi buahnya manis”. Jadikan semua itu sebagai tantangan yang harus anda lalui. Mencapai cita-cita yang sejak kecil telah anda idam-idamkan. Bukan hidup jika tidak menemui persoalan. Ketika anda mengalaminya, lancarkanlah komunikasi. Jadikan keluarga, teman, sahabat dan dosen anda sebagai tempat curhat. Karena dengan begitu persoalan yang anda temui bisa lebih ringan. Dan tidak menutup kemungkinan menemukan jalan penyelesaiannya. Selamat menempuh lingkungan baru. Tempat anda kuliah saat ini. Semoga anda mendapat ilmu. Bukan ijazah yang banyak diperjualbelikan. Karena itulah tujuan diadakan pendidikan. Memberi pengetahuan. Bukan sekadar ijazah yang dipenuhi nilai memuaskan. Namun tidak dapat dipertanggungjawabkan di hadapan masyarakat.

Read More...