Tampilkan postingan dengan label the technopreneur. Tampilkan semua postingan
Tidak Ada Pengusaha Langsung Menjadi Besar
Jumat, 31 Juli 2009
Tidak ada pengusaha yang langsung menjadi besar kecuali “pewaris”. Untuk itu bagi teman-teman yang ingin menjadi pengusaha, tidak perlu malu untuk menjadi pengusaha kecil, karena semua pernah menjalaninya. Tidak perlu khawatir masalah modal, yang terpenting adalah “ide”. Sebab menjadi pengusaha adalah menjual ide, nanti ide yang akan mendatangkan modal. Dengan 3 Prinsip untuk memenangkan persaingan yakni ;Lebih Cepat, Lebih Baik dan lebih Murah. Itu kuncinya untuk bisa memenangkan persaingan. Di mana pun di dunia ini.
Nah untuk menjadi pengusaha, kuncinya cuman dua, berani memulai dan berani mengambil resiko. Seseorang yang ingin bisa berenang kalau hanya membaca teori tentang berat massa dan berat jenis, tidak akan bisa mengapung tanpa mencoba menceburkan diri ke kolam. Mungkin awalnya mulai dari pinggir dulu, sering minum air karena kelelap, tapi percayalah nanti juga akan bisa. Begitu kira-kira untuk menjadi pengusaha, kalau hanya baca buku tentang teori ekonomi dan entrepreurship tanpa berani memulai maka jangan harap bisa menjadi pengusaha. Harus berani memulai itu kuncinya. Jangan harap bisa mengendarai sepeda kalau takut jatuh.
Menjadi pengusaha juga harus punya banyak akal. Itulah sebabnya kenapa saya lebih suka disebut sebagai saudagar daripada pengusaha. Karena saudagar yang berasal dari bahasa sansekerta memiliki makna seribu akal. Dalam artian seorang pengusaha harus berani melakukan Inovasi dan memberikan nilai tambah. Saya teringat dengan perkataan Pak Habibie beberapa waktu lampau bahwa 1 Ton besi akan beda nilainya apabila ia dibentuk menjadi pesawat daripada menjadi mobil. Meski menurut saya hal tersebut tidak begitu tepat karena ternyata mobil Kijang Toyota yang dijual oleh NV. Hadji Kalla lebih laku daripada CN 250 yang dijual oleh PT. Dirgantara. Ini karena ia tidak menganut prinsip lebih murah. Sementara mobil Jepang lebih laku karena ia Lebih Baik, Lebih Cepar dan lebih Murah. Terlepas dari itu semua memberikan nilai tambah pada suatu produk adalah sesuatu yang penting. Harga 1 Kilo Kakao berbeda dengan harga 1 Kilo Silverqueen atau Tobleron. Oleh Jusuf Kalla
Posted in entrepreneur, the technopreneur by yunuz | 0 komentar
I-STEP 2008
Kamis, 15 Mei 2008
Undangan buat para technopreneur muda:
Alumni Intensive - Student Technopreneurship Program yang terhormat,
Sehubungan dengan diselenggarakannya Student Technopreneurship Program tahun ke-3 yang akan diselenggarakan pada tanggal 31 Juli - 16 Agustus 2008 dengan ini kami mohon bantuan kepada alumni STEP untuk menyebarkan informasi program ini kepada rekan-rekan di kampus atau almamater. Informasi ini juga kami juga mengirimkan melalui pos.
Dalam attachment file kami kirimkan panduan penulisan proposal dan format proposal untuk memudahkan penulisan proposal.
Atas bantuannya kami ucapkan terimakasih.
Salam,
Endah Murniwati
RAMP IPB
Jl. Pajajaran 1 Bogor Kampus IPB Baranangsiang Pintu 3
Bogor - Jawa Barat 16144
Telp & Fax: +62 251 317386
Website : www.ramp-indonesia.org http://rampipb.multiply.com
Email : lramp@ipb.ac.id rampipb@yahoo.com Read More...
Posted in the technopreneur by yunuz | 0 komentar
“Secchi Disc”, 26 tahun menanti diakui
Selasa, 13 Mei 2008
Apa Itu piringan Secchi ???Secchi disk pertama kali ditemukan oleh Fr. Pietro Angelo Secchi, seorang ahli astrofisika. Saat ia diminta untuk mengukur transparansi perairan di laut mediterania oleh seorang Komandan (Letnan) Angkatan Laut Cialdy, pimpinan armada angkatan laut Papal. Ia pun memperkenalkan alat pengkuru kecerahan yang terbuat dari piringan dan diberi warna hitam dan putih. Secchi menggunakan piringan putih untuk mengukur kecerahan periaran mediterania pada bulan april tahun 1865. Kala itu, ukuran piringan yang digunakan untuk mengukur kecerahan perairan sangat bervariasi. Namun umumnya ukuran yang digunakan adalah piringan dengan ukuran dengan diameter 18 inchi. Dan dibuat menggunakan piringan metal dengan warna hitam dan putih.
Secchi disk digunakan untuk melihat seberapa jauh jarak (kedalaman) penglihatan seseorang ketika melihat ke dalam perairan. Caranya, piringan diturunkan ke dalam air secara perlahan menggunakan pengikat/tali sampai pengamat tidak melihat bayangan secchi. Saat bayangan pringan sudah tidak tampak, tali ditahan/ berhenti diturunkan. Selanjutnya secara perlahan piringan diangkat kembali sampai bayangannya tampak kembali. Kedalaman air dimana piringan tidak tampak dan tampak oleh penglihatan adalah pembacaan dari alat ini. Dengan kata lain, kedalaman kecerahan oleh pembacaan piringan secchi adalah penjumlahan kedalaman tampak dan kedalaman tidak tampak bayangan secchi dibagi dua.
Meskipun, piringan secchi sebagai alat ukur kecerahan perairan dalam mengukur transparansi air, perolehan datanya masih perkiraan, alat ini sering digunakan karena bentuk dan penggunaannya yang simpel. Meskipun saat itu ada alat lain yang lebih akurat dalam mengukur tingkat kecerahan perairan yaitu fotometer. Tapi alat itu tidak digunakan oleh departemen sumber daya alam Michigan di tahun 1974 (sekarang MDEQ). Selama lebih dari 26 tahun, informasi perihal kecerahan perairan yang menggunakan alat secchi disk dari beberapa danau yang diterima oleh departemen SDA Michigan, baru diserahkan ke Michigan Lake and Stream Associations, Inc. (ML&SA). Hal ini karena sebelumnya banyak yang tidak yakin akan keakuratan secchi disk. Selanjutnya ML&SA membagi laporan kecerahan beberapa danau yang menggunakan secchi disk ke beberapa instansi. Karena akhirnya mereka pun yakin informasi yang diperoleh menggunakan secchi disk selama 26 tahun memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi, sehingga bisa digunakan sebagai informasi bagi instansi yang membutuhkan. Setelah 26 tahun menjadi perdebatan ahli limonolgi akhirnya aecchi disk diakui juga sebagai alat pengukur kecerahan. Secchi disk pun umum digunakan sampai saat ini.
Alasan lain dari lamanya waktu untuk mempublikasikan hasil pengukuran kecerahan perairan di danau yang menggunakan secchi disk juga disebabkan karena informasi yang diperoleh berasal dari relawan (volunteer), sehingga perbandingan pengukuran antara kecerahan danau yang satu dengan danau yang lain dianggap tidak valid. Menurut Dr. Lowell Keup, Physical Science Administrator Criteria and Standards, U.S. Environmental Protection Agency, Michigan State University in 1980,” umumnya penggunaan secchi disk salah, selain itu juga melanggar pengukuran yang telah disarankan oleh para ahli limnologi”.
Mengapa Secchi Disk warnanya hitam putih ?
Piringan secchi. Penamaan untuk menghargai nama penemunya. Lantas mengapa warna yang dipilih Prof Secchi adalah hitam dan putih. sedangkan, di alam begitu banyak jenis warna yang dapat dijumpai. Saat itu tidak ada alasan yang ilmiah perihal pemilihan kedua warna ini. Tapi, mengapa pada secchi disk warna yang digunakan adalah hitam dan putih ?. Menurut ilmu fisika, warna adalah sifat cahaya yang bergantung pada panjang gelombang yang dipantulkan benda tersebut. Benda yang memantulkan semua panjang gelombang terlihat putih, benda yang sama sekali tidak memantulkan terlihat hitam. Jadi, hitam dan putih digunakan karena hitam adalah warna yang dapat mewakili warna gelap dan putih mewakili warna cerah.
Dimodifikasi
Di jurusan perikanan universitas hasanuddin makassar, secchi disk dibuat secara mandiri oleh mahasiswa yang sering melakukan praktek lapang mata kuliah kualitas air atapun limnologi. Namun proses membuat bahan menjadi bundar, agak rumit. Sehingga kebanyakan mahasiswa memodifikasi alat ini dengan bentuk persegi. Bahannya pun cukup menggunakan tegel putih untuk bahan lantai rumah. Tegel yang dilubangi ini cukup dicat atau ditempeli dengan stiker berwarna hitam. Jadi namanya pun dirubah. Dari secchi disk menjadi secchi square. Piringan Secchi menjadi secchi persegi. Sebuah inovasi yang Kreatif...!
Posted in perikanan unhas, the technopreneur by yunuz | 4 komentar
Teknologi Budidaya Perikanan Masa Depan, Harapan dan Tantangan
Kamis, 24 April 2008
Case Technopreneurship
“Catatan Intensive Student Technoprenenurship Program 2007 Oleh ;
Dr Arie Purbayanto; Penemu dan pemilik Hak Paten ‘Mesin Pemisah Daging dan Tulang Ikan’.”
Salah satu proposal yang kita sampaikan untuk kesinambungan suplai pangan (hasil-hasil perikanan) agar tetap terjamin adalah dengan menumbuhkembangkan budidaya perikanan (growth of aquaculture). Apalagi untuk Indonesia yang demikian dahsyat dan luar biasa potensi sumber daya alam perikanan dan kelautannya, adalah tidak masuk akal jika sampai kekurangan suplai pangan dari lumbung yang sangat besar itu. Seringkali juga dikatakan potensi sumber daya alam perikanan dan kelautan Indonesia itu ibarat Raksasa (The Giant), karena saking besarnya. Jadi sebenarnya kita sedang berjalan bersama raksasa potensi sumber pangan dunia, ”We are walking with the Giant”.
Jika saya diijinkan memilih, maka saya aka tetap memilih sebagai bangsa Indonesia untuk mengabdikan segala potensi yang saya miliki demi kemajuan dan kemakmuran bangsa Indonesia. Dan inilah saatnya untuk saya sepakat menjadi solusi bagi problem kesinambungan pangan bagi dunia melalui Indonesia. Jika perlu saya nyatakan Revolusi pongan dunia dan pusat perikanan kelautan dunia itu ada di Indonesia. Bukankah kita sedang berjalan bersama Raksasa ?.
Mari kita mulai melihat keadaan sesungguhnya dari kondisi potensi pertanian secara luas, termasuk perikanan, kelautan, peternakan dan perhutanan. Secara khusus, saya ingin sampaikan sesuatu yang dapat menjadi inspirasi bagi kita untuk menyikapi secara tepat. Bahwa pertanian masa depan itu adalah pertanian dengan pupuk murah. Budidaya perikanan dan peternakan masa depan itu adalah budidaya dengan pakan murah. Fakta yang terjadi sekarang merupakan kondisi sebaliknya.
Makhluk hidup (tanaman dan hewan juga manusia) membutuhkan apa yang kita kenal dengan ”Nutrient Essential” (NE). Secara khusus, budidaya perikanan membutuhkan pakan yang mengandung protein yang selama ini diperoleh dari tepung ikan atau sumber-sumber protein lainnya. Dalam budidaya perikanan biaya produksi terbesar ternyata oleh faktor pakan, yaitu sekitar 60-70 % dari total biaya produksi. Sedemikian rupa kelangsungan dan keberhasilan kegiatan budidaya perikanan sangat bergantung dari pakan yang di dalamnya ada komponen protein, yang merupakan biaya terbesar dalam pembuatan pakan.
Mulai sekarang kita memahami ’bisnis’, atau agribisnis terjadi situasi sebagai berikut :
Harga tepung ikan (khususnya impor) mengalami kenaikan per Juli 2006. selama ini untuk mendapatkan pakan yang berkualitas, dengan feed conversion terbaik dihasilkan dengan komposisi formula pakan dengan menggunakan tepung ikan impor.
Dengan naiknya harga pakan, maka pasti biaya produksi akan naik. Pangan (ikan, udang, sayuran, buah, palawija, padi dll) merupakan komoditi yang sangat amat dipengaruhi fluktuasi harga di pasaran (permintaan da penawaran). Harga jual komoditi ikan pada kenyataan rendah bahkan seringkali lebih rendah dari besarnya biaya produksi, dan ini dalam kondisi normal.
Terdapat masalah lain dalam budidaya, misalnya hama dan penyakit, iklim dan siklus musim, kemanan, yang dapat membuat gagal panen. Secara bisnis, kenyataan harga pakan ikan akan naik setelah bulan juli 2006. seumber daya manusia yang bergerak di sektor ini, sebagai pembudidaya ikan (UMKM) banyak sekal jumlahnya. Terdapat ;embaga pendidikan tinggi dalam bidang perikanan dan kelautan, bahkan sudah ada Departemen Kelautan dan Perikanan sebagai pemerintah yang membinanya. Terbatasnya sumber daya permodalan di sektor ini, karena kebanyakan pelaku bisnis adalah petani-petani kecil.
Yang agak pasti, bahwa kegelapan akan datang. Bagaimana tidak suram, jika raksasa itu berhenti dan tidak dapat maju, maka revolusi pangan tadi menjadi sebuah mimpi belaka.
Saya jadi teringat syair lagunya ”Harry Moekti”:...,, Gelap..betapa gelap hidup ini..., bila sinar terang.. menghalau mendung ini... kemudian dalam refrain dikatakan :..” Kegelapan yang datang.. tak mungkin selamanya... nanti akan berlalu...pasti akan berlalu.. pasti aka berlalu....
Terang itu akan datang, akan sangat bergantung dari Technopreneur masa kini dan masa mendatang. Sumber daya manusia yang memiliki kemampuan teknologi dipadukan dengan sikap dan prilaku enterpreneur, diharapkan menjawab harapan dan tantangan ini.
Saatnya menemukan ide (kreatifitas) dan melakukan inovasi (proses merubah ide menjadi dampak), serta konsep solusi dari permasahan di atas. Andalah Technopreneur –Technopreneur Muda yang diharapkan untuk itu.
Posted in the technopreneur by yunuz | 2 komentar
be the technopreneur
Rabu, 07 November 2007
Technopreneur Kampus
Jepang mempatenkan tempe yang menjadi makanan pokok di Indonesia,
Malaysia pun ikut mematenkan batik yang kita kenal sebagai hasil karya bangsa Indonesia...
Mendengar itu, kita bisa saja berang. Namun itulah realitasnya, bangsa yang menguasai informasi, komunikasi dan teknologi adalah bangsa yang bisa bersaing di era globalisasi saat ini. Jepang juga Malaysia serta negara maju lainnya tidak hanya mempertahankan wilayah teritorialnya, tapi juga produk dalam negeri hasil karya. Setiap hasil karya mereka lindungi dengan cara memberikan paten (HaKI). Sehingga perorangan, kelompok, atau negara lain harus membayar jika menggunakan produk tersebut.
Indonesia kaya akan sumber daya alam, juga banyak produk dalam negeri yang telah dihasilkan oleh anak Indonesia. Namun kurangnya penguasaan teknologi, informasi dan komunikasi, akhirnya kita kalah bersaing dengan bangsa lain. Sebab sumber daya alam bukan lagi faktor utama dalam kesuksesan suatu bangsa. Harus ada pengetahuan, kreatifitas, dan inovasi di bidang teknologi. Sebab bangsa yang besar adalah bangsa yang menguasai teknologi.
Saatnya mahasiswa unhas menghasilkan karya di bidang teknologi. Sebab bangsa ini akan dipandang bila bisa menghasilkan produk-produk inovasi di bidang teknologi. Kegiatan hasil kerjasama Unhas bersama Recognition and Mentoring Program IPB (RAMP-IPB) ini diharapkan mampu menumbuhkembangkan sikap invensi dan inovasi serta meningkatkan kemampuan technopreneurship mahasiswa Indonesia.
Oleh karena itu dalam rangka meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam menyediakan solusi teknologi dalam pemecahan masalah di masyarakat, tahun ini RAMP-IPB telah menyeleksi beberapa proposal dari mahasiswa. Diantaranya produk yang dianggap inovasi kreatif adalah WM Box untuk menciptakan semangka dan melon kotak dari mahasiswa Brawijaya. Pemanfaatan rumput laut untuk bahan baku mie basah dari mahasiswa Brawijaya. Pemanfaatan buah pohon nyamplung (Calophyllum inophyllum ) sebagai pengganti minyak tanah hasil inovasi mahasiswa Universitas Nusa Tenggara Barat. Dari Unhas ada tiga inovasi yang terpilih yaitu, monokrom Y untuk menghitung kepadatan sel Chlorella, Whey sebagai minuman segar, serta peningkatan efisiensi reproduksi kambing dengan inseminasi buatan. (semoga bermanfaat bro..!)
Semoga ini menjadi awal bangkit dan terciptanya karya agung bangsa indonesia. Sebuah teknologi yang berpihak dan mengarah ke masyarakat. Sebuah teknologi kerakyatan untuk kesejahteraan.
Bangkit bersama kita membangun negeri yang makin terpuruk ini.
MERDEKA...!!!
Posted in the technopreneur by yunuz | 0 komentar
one day technopreneurship unhas
Sabtu, 15 September 2007
Posted in the technopreneur by yunuz | 0 komentar
technopreneur 2007 ipb bogor
Sabtu, 01 September 2007
Posted in the technopreneur by yunuz | 13 komentar
Langganan:
Postingan (Atom)




