Reparasi hati di bulan suci  


Selamat Berpuasa...!!

Read More...

Drop Out  

Selamat bagi anda mahasiswa baru yang telah lulus UMB. Juga yang lulus SNMPTN. Perjuangan anda untuk masuk perguruan tinggi tercapai. Jangan bermalas-malasan. Masih ada ancaman DO.
Dalam pelaksanaan pendidikan di perguruan tinggi dikenal istilah ‘drop out’. Pemahaman mahasiswa singkat saja. Drop out yang disingkat DO artinya mahasiswa dikeluarkan dari sebuah perguruan tinggi. Statusnya bukan lagi mahasiswa. Sehingga segala hak dan kewajibannya saat berstatus mahasiswa pun hilang dengan sendirinya.
Dalam aturan universitas ”mungkin” istilah DO tidak kita jumpai. Sebab istilah dalam kamus bahasa inggris yang berarti keluar ini, dituliskan dengan istilah ’putus studi’. Prihatin, mungkin itulah kata yang bisa kita ungkapkan. Seorang anak yang diharapkan bisa menambah ilmu dan pengetahuannya justru harus didepak dari kampusnya. Apa gerangan yang membuat mereka harus putus studi ?
Tidak memiliki biaya
Mahasiswa yang berasal dari keluarga berkecukupan termasuk ke dalam golongan ini. Setelah masuk ke dalam lingkungan kampus. Mahasiswa pastinya akan digerogoti dengan banyaknya pembayaran. Olehnya dibutuhkan biaya untuk membayar itu semua. Selain harus sibuk menghadiri kuliah dan mengerjakan tugas kampus. Mahasiswa yang tidak mampu secara ekonomi akan selalu dihantui, tiap kali ada tagihan membiayai pendidikannya.
Karena sadar bahwa orang tuanya tidak sanggup membiayai kuliahnya. Mahasiswa yang punya keinginan besar mendapatkan ilmu terpaksa harus bekerja. Mendapatkan uang agar bisa membayar setiap keperluan kuliahnya. Disamping itu Dia harus berjuang untuk sekadar hidup dengan membeli makan. Belum lagi harus mencari tempat tinggal. Yang saat ini biaya sewanya mencapai jutaan per tahun.
Umumnya mahasiswa seperti ini memiliki kemampuan akademik baik. Namun diperhadapkan pada kondisi antara kuliah atau bekerja. Pikiran dan tenaganya pun terbagi. Padatnya aktivitas dan tugas perkuliahan membuat Dia harus pintar membagi waktu. Siang waktunya digunakan untuk kuliah, malamnya dia gunakan untuk mendapatkan uang dengan bekerja. Atau sebaliknya. Tepatnya bekerja paruh waktu.
Banyak mahasiswa yang membiayai kuliahnya dengan bekerja. Dan berhasil menyelesaikan pendidikannya. Namun, tidak sedikit pula yang harus pasrah dikeluarkan akibat terjerat evaluasi jumlah satuan kredit semester (sks) dan nilai indeks prestasi yang telah ditentukan tiap semesternya. Karena tidak mampu memenuhi beban studinya, terpaksa dia harus dikeluarkan.

Organisasi
Injury time. Itulah kondisi yang sering mengintai para organisatoris. Cerdas dan punya jiwa sosial yang tinggi. Sehingga gelar aktivis pun dengan sendirinya mereka sandang. Bergelut dengan buku. Kesehariannya dipenuhi dengan kajian, diskusi serta mengatur strategi. Membangun sebuah perubahan yang didasarkan pada nilai-nilai ilmiah dan semangat kemanusiaan. Retorika, cita dan cinta di kampus menjadi pengalaman tersendiri buat mereka. Sehingga terkadang lupa. Wasit sebentar lagi meniup peluit pertanda masa studi mereka bakal usai.
Lampu kuning sebentar lagi berubah merah. Namun, bagi mahasiswa yang pintar mengatur waktunya. Organisasi bukanlah halangan. Justru menjadi nilai tambah tersendiri bagi mereka. Sehingga banyak juga aktivis mahasiswa yang mampu menyelesaikan kuliahnya. Meski tidak bisa dimungkiri, kalau ada juga aktivis mahasiswa yang harus terdepak dari kampus karena masa studi yang diberikan kepada mereka telah habis. Aktivis seperti ini biasanya, menganggap gelar tidak lagi menjadi tujuan. Sebab pengetahuan menurut mereka bisa didapatkan tidak hanya di bangku kuliah. Meski demikian, sikap para aktivis kampus seperti ini telah membuat citra bahwa organisasilah yang membuat mereka tidak sempat menyelesaikan kuliahnya. Imbasnya, banyak mahasiswa yang paranoid. Takut berorganisasi. Padahal dengan berorganisasi, banyak hal yang tidak kita temukan di bangku kuliah bisa kita peroleh. Belajar manajemen dan kepemimpinan adalah salah satunya. Sehingga sayang, bagi mereka yang mempunyai bakat sebagai pemimpin harus keluar tanpa menyandang gelar sarjana. Meski gelar bukanlah patokan kesuksesan seseorang.

Menikah
Mahasiswa yang terpaksa berhenti dari kuliahnya juga bisa diakibatkan karena keburu menikah atau dinikahkan. Umumnya tipe mahasiswa seperti ini semangat kuliahnya memang tidak begitu kuat. Saat-saat kuliah mereka biasanya sudah pacaran. Baik bertemu kekasihnya di kampus atau di daerah tempat mereka berasal. Keinginan untuk selalu berdua bersama kekasihnya memaksa mereka untuk memilih menikah. Atau bisa jadi dinikahkan.
Syahdan, rutinitas kuliah tidak lagi dipikirkan oleh mereka yang sudah menikah. Apalagi bagi mahasiswi yang telah mengandung selepas menikah. Kondisi memaksa mereka untuk selalu berada di rumah. Merawat suami juga kandungannya. Di sisi lain juga terjadi perubahan prilaku. Sebelum menikah mereka bisa bergaul dengan siapa saja. namun setelah memiliki akta nikah, ruang lingkup pergaulan mereka menjadi terbatas. Semua tugas kuliah harus diselesaikan saat siang hari. Waktunya pun sangat sempit. Sebab bagi yang mahasiswi, mereka harus segera pulang menjalani profesinya sebagai seorang istri dan ibu bagi anaknya.
Kuliah bagi mereka yang telah menikah muda umumnya hanya memikirkan bagaimana agar segera mendapatkan ijazah. Itupun jika mereka sanggup menjalaninya. Jika tidak, pilihan terakhir adalah mengundurkan diri dari bangku kuliah. Memilih berkarir di rumah. Bekerja menghidupi keluarga. Dan berharap suami yang meneruskan kuliahnya agar bisa mendapat pekerjaan guna menghidupi keluaga.

Semua ada solusinya
Saat ini proses penerimaan mahasiswa baru di seluruh perguruan tinggi telah dimulai. Bagi anda mahasiswa baru, tidak perlu khawatir dengan ancaman DO. Jangan juga takut untuk bekerja sambil kuliah, menikah dan aktif di lembaga kemahasiswaan. Sebab nyatanya banyak juga mahasiswa yang melakoni hal tersebut bisa selesai dan sukses tentunya. Semua manusia pada dasarnya pintar. Cuman satu hal yang terkadang membuat mereka gagal. Malas.
Apapun aktivitas anda saat menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Hilangkanlah rasa malas dalam benak anda. Semakin banyak aktivitas dan kesibukan justru baik dalam menambah wawasan. Seperti kata Einstein, ”akarnya memang pahit, tapi buahnya manis”. Jadikan semua itu sebagai tantangan yang harus anda lalui. Mencapai cita-cita yang sejak kecil telah anda idam-idamkan. Bukan hidup jika tidak menemui persoalan. Ketika anda mengalaminya, lancarkanlah komunikasi. Jadikan keluarga, teman, sahabat dan dosen anda sebagai tempat curhat. Karena dengan begitu persoalan yang anda temui bisa lebih ringan. Dan tidak menutup kemungkinan menemukan jalan penyelesaiannya. Selamat menempuh lingkungan baru. Tempat anda kuliah saat ini. Semoga anda mendapat ilmu. Bukan ijazah yang banyak diperjualbelikan. Karena itulah tujuan diadakan pendidikan. Memberi pengetahuan. Bukan sekadar ijazah yang dipenuhi nilai memuaskan. Namun tidak dapat dipertanggungjawabkan di hadapan masyarakat.

Read More...

Suster Apung Butuh Manajemen  

Kasian Suster Apung. Gelar bagi Rabiah yang terkenal akibat tayangan film dokumenternya di Metro TV meraih simpati banyak pemirsa. Setelah namanya terangkat lewat media. Banyak pihak yang dulunya mungkin tidak perduli dengan sepak terjangnya melayani pasien di kepulauan Pangkep, kini beralih mata kepadanya. Tidak hanya warga biasa yang bangga atas kiprahnya dalam memberi pelayanan kesehatan di Indonesia. Pejabat dan tokoh politik pun, mulai memanfaatkan dirinya.
Inilah yang terjadi pada Suster Apung. Sebutan yang diberikan oleh Arfan, Sutradara film dokumenter Suster Apung. Yang meraih penghargaan sebagai film dokumenter terbaik. Iklannya di stasiun TV dengan seorang tokoh politik membuat banyak pihak yang mempertanyakan kembali kiprah Rabiah. Ada yang menelpon dan bertanya kalau Suster Apung telah menjadi salah satu kader partai. Begitu juga sebagian masyarakat yang menganggap suster Apung telah menjual kebesaran namanya lewat iklan. Syahdan, perempuan lugu ini pun syok. Selalu mendapat pertanyaan sinis dan menyudutkan dirinya. Tidak tahu kalau, iklan yang menghadirkan dirinya di Pulau Dewata ternyata digunakan untuk keperluan politik. Setelah sadar dan melihat dirinya bersama seorang tokoh politik yang kabarnya ingin mencalonkan presiden RI di TV, suster Apung pun berang. Kecewa karena mengira pembuatan iklan yang melibatkan dirinya itu akan digunakan untuk iklan layanan masyarakat oleh pemerintah.
Nasi telah menjadi bubur. Rabiah bersama Sang Sutradara pun membuat konfrensi pers di warung kopi Anas Makassar. Memberikan hak jawabnya atas iklan politik itu. ”Saya tidak tahu kalau iklan itu akan digunakan untuk kepentingan politik,” ungkap Rabiah. Kalaupun Dia tahu iklan itu bukan untuk ’iklan layanan masyarakat’, saya tidak akan mau. ”Saya ini orang biasa kodong, dan bukan anggota partai” ungkapnya sedih.

Dari kasus tersebut. Ke depan Rabiah memang harus lebih waspada. Berhubung dipenghujung tahun ini, adalah waktu bagi tokoh politik untuk mengkampanyekan dirinya. Semua pihak yang bisa mengangkat popularitas seorang tokoh politik bisa saja dimanfaatkan. Seperti Rabiah. Oleh karenanya Suster Rabiah, sebaiknya memiliki pendamping. Manajemen. Yang bisa memberitahukan tujuan dan kegunaan dirinya dilibatkan dalam setiap event. Bukan untuk mencari duit. Tapi minimal menjelaskan kepada Rabiah dampak positif dan negatifnya. Mungkin anda ingin mendaftar? Silahkan hubungi Rabiah. Semoga beliau berkenan. Tapi, sekali lagi bukan untuk mendapatkan duit. Sekedar membantu beliau. Sebab, dengan adanya kejadian seperti di atas. Rabiah bisa jadi tidak tenang menjalani hari-harinya di pulau dalam melayani setiap pasiennya. Setiap kali ada pertanyaan dan gurauan, dapat saja meng-under estimete dirinya. Buat Rabiah tetap semangat Q !!! terima kasih telah berkenan berfoto bersama saya di Baruga.

Read More...

“Zhumpallabu”, Saksi Mata Peradaban Bone  

Irfan, Collenk, Yunuz, Mawan

Dalam sejarahnya, Kabupaten Bone Merupakan salah satu kerajaan besar yang pernah ada di nusantara. Didirikan oleh ManurungngE Rimatajang pada tahun 1330, kerajaan Bone mencapai kejayaannya pada masa pemerintahan Raja Aru Palakka pada pertengahan abad ke 17. Dalam perjalanannya hingga kini daerah dengan semboyan ‘Kota beradat’ ini pun mengalami perkembangan yang cukup pesat.
Seiring perkembangan peradaban bumi Aru Palakka, banyak cerita dan sejarah yang berkembang di tengah masyarakat Bone. Salah satu saksi mata yang bisa menjadi referensi perubahan di wilayah yang mempunyai 27 kecamatan ini adalah Sumpallabbu. Sebuah terowongan di badan gunung yang masuk wilayah kecamatan Bengo. Memiliki panjang sekira 5 meter, Sumpallabu yang biasa dituliskan oleh anak muda Bone dengan tulisan keren ‘Zhumpallabbu’. Sejak dibuat hinggi kini Sumpallabbu menjadi pintu masuk dan keluarnya warga dari dan menuju kota Bone.
Tidak jelas kapan tanggal dan tahun pastinya terowongan ini selesai dibuat. Namun menurut cerita orang tua saya, Sumpallabu dibuat saat masa kompeni Belanda. Saat itu sedang dibangun jalan panjang dari arah barat yang menghubungkan Makassar, Maros menuju Bone. Namun saat mega proyek yang dibangun itu sampai di pegunungan kecamatan Bengo, para pekerja menemukan jalan buntu. Sebab tebing gunung berbatu menghalangi jalur yang sedang dibuat. Karena tidak ada jalan lain, maka dilubangilah dinding bukit itu oleh warga menggunakan peralatan seadanya. Lahude yang tak lain adalah kakek saya kabarnya juga sempat mengucurkan keringatnya untuk melubangi dinding gunung ini. Mansur Hamid kepala desa Salebba’ Kecamatan Ponre, mengatakan ada ratusan bahkan ribuan pekerja yang digunakan hanya untuk melubangi punggung gunung ini. ”Dan yang berhasil melubangi bukit ini adalah warga dari kecamatan Ponre”, ungkap Hamid yang tidak sempat menyelesaikan skripsinya di Fakultas Sastra Unhas.
Menurut Hamid, penamaan Sumpallabu berasal dari dua kata. Sumpang artinya pintu dan Labbu artinya tepung. Jadi menurut Hamid yang sudah hampir 10 tahun memimpin desanya, Sumppallabbu bisa diartikan sebagai pintu yang dibuat dengan cara melubangi gunung secara perlahan sampai bukit berbatu itu hancur dan halus seperti tepung. Hingga akhirnya jebol dan menjadi jalur keluar masuknya kendaraan ataupun orang menuju Bone dengan 99,32 persen penduduknya beragama islam.
Bagi perantau asal bone, Sumpallabbu menjadi satu-satunya pintu bila ingin keluar pulau Sulawesi Selatan melewati Makassar. Sehingga pintu batu yang terletak di antara perbatasan kecamatan Ulaweng dan Kecamatan Bengo ini, telah lama menjadi saksi mata bagi mereka yang keluar masuk dari dan ke kota Bone yang ditahun 2007 berpenduduk 699.910 jiwa. Peradaban moderen yang dibawa oleh warga dari luar Bone sebelum masuk dan sampai ke kota Bone, harus melewati pintu yang saat kami kunjungi ini penuh dengan coretan. Meski telah dipugar dengan bangunan anak tangga di atas terowongan buatan tangan ini, tidak banyak orang yang bisa singgah di Sumpallabu. Mungkin karena lokasinya yang agak sempit, sehingga sulit untuk memarkir kendaraan di sekitar Sumpallabbu. Berdiri kokoh melingkari jalan, Sumpallabbu kini menjadi saksi mata yang bisu melihat hilir mudik setiap kendaraan yang masuk ke Bone. Tidak hanya warga Bone, pintu ini juga dilalui oleh warga yang ingin ke Kabupaten Sinjai dan kota Kendari Sulawesi Tenggara melalui pelabuhan Bajoe.
Collenk, Irfan, Mawan, dan Saya sendiri menyempatkan singgah sejenak meski hanya sekedar foto-foto di Sumpallabu, saat menuju kota Bone dengan sepeda motor. Untuk sampai ke Sumpallabbu, dibutuhkan waktu sekitar dua jam perjalanan dari arah kota makassar. Itupun harus melewati jalan sempit yang berliku dan menanjak. Oleh karena itu dibutuhkan kehati-hatian bagi pengendara. Berdiri di atas Sumpallabbu membuat anda leluasa memandangi pemukiman penduduk, hamparan sawah dan barisan pegunungan. Jika tiba sore hari, anda pun bisa melihat sang surya terbenam dibalik pegunungan. Sumpallabbu terbuka 24 jam bagi arus kendaraan, barang dan manusia. Sejak dulu hingga kini tetap berdiri kokoh menjadi saksi bisu peradaban Bone. Namun sayang keberadaannya belum terlalu diperhatikan.

Tulisan ini telah dimuat di ”Panyingkul” blog;Jurnalisme Orang Biasa

Read More...

Apa itu mahasiswa ?  

Pertanyaan itu tiba-tiba terlintas saat daku berjalan menuju kampus tempat mahasiswa dan saya pernah menjadi mahasiswa. Menuntut ilmu berharap bisa mengangkat derajat diri dengan bekal pengetahuan yang diperoleh.
Pertanyaan itu perlahan saya rangkai dalam pikiran. Untuk menemukan jawaban apa itu mahasiswa dari kacamata dan pengalaman saya selama hampir enam tahun berstatus mahasiswa. Dan menurut saya dalam perjalanan itu, mahasiswa adalah insan pembelajar yang sementara memperjuangkan nilai-nilai dasar dalam berkehidupan di tengah masyarakat. Sebuah nilai humanistik bagaimana memanusiakan manusia. Meski dalam kenyataannya persepsi kita tentang ”Humanis” yang diperoleh dari ruang intelektual kampus itu sangatlah beragam. Dari buku, teori dan hasil kajian. Entah itu dari dosen maupun pengamatan dan pengalaman di dunia kelembagaan mahasiswa. Diperoleh lah ilmu dan pengetahuan sebagai bekal dan modal mahasiswa ketika tiba di tengah masyarakat. Untuk diabdikan bukan untuk dipermainkan. Apalagi dimanfaatkan untuk sebuah kepentingan ‘sesat’. Seperti itu mungkin….!!!Selebihnya masih saya pikirkan untuk saya tuliskan. Dan mungkin anda mau menambahnya dalam kolom komentara blog ini. He he he…

Read More...