Muswil 6 Himapikani wilayah 6  


emen n om freddy...


makan makan coy... !


panitia .... narzissss....


seminar nasional; pemberdayaan masyarakat pesisir
dan pulau-pulau kecil multisektoral...


seminar lagi...

Read More...

one day technopreneurship unhas  









Read More...

mestakung  

Mestakung, Jangan Setengah-Setengah

Saya teringat kala berumur sepuluh tahun. Asyiknya petak umpet sambil berlarian kejaran. Henggo, sebutan permainan yang begitu akrab pada anak seumur kami. Teman saya Joni setiap bermain henggo selalu saja sulit tertangkap. Dengan tubuh jangkung begitu mudah ia melesat loncat pagar rumah setinggi satu meter.

“ ini baru manusia, coba anjing yang kejar beta pasti beta bisa lompat pagar yang lebih tinggi”, sebutnya angkuh ketika tertangkap setelah harus dikepung beberapa orang anak.

Bagi orang awam, mungkin kemampuan joni dianggap wajar karena tubuhnya yang jangkung. Tapi Prof Yohanes Surya menyebut ini sebagai proses yang disebutnya dengan Mestakung (semesta mendukung). Pembina Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI) ini sangat yakin akan keberadaan mestakung. Karena menurutnya kondisi kritis telah mendorong semua molekul untuk mengatur dirinya. Kasus Joni adalah contoh mestakung. Sebuah prinsip dasar pada fisika.

Sebagai ketua tim olimpiade fisika, buku mestakung karya prof Yohanes lebih banyak berkisah perihal kesuksesan tim Indonesia dalam meraih prestasi di tingkatan internasional dalam buku ini. Mengambil contoh Oki Gunawan. Saat melakukan eksperimen fisika dengan nitrogen cair, ia bingung bagaimana memanaskan kembali logam yang telah menjadi dingin akibat direndam dalam nitrogen cair. Akhirnya Oki mendapatkan ide memanaskan logam tersebut dengan menaruhnya di ketiak. Sungguh Kreatif!

Proses kreatif

Proses menggabungkan berbagai konsep merupakan proses dalam mestakung. Prosesnya sebagai berikut (hal. 30);

Ketika kita menghadapi suatu masalah, maka yang terjadi adalah otak mengumpulkan semua informasi yang telah didapat sebelumnya. Otak berusaha mencari apakah data-data yang telah diperoleh sebelumnya dapat menyelesaikan masalah ini. Semakin banyak pengalaman kita, maka semakin mudahlah menyelesaikan masalah tersebut. Terutama jika masalah itu memiliki kemiripan dengan masalah yang pernah dialami sebelumnya.

Namun, jika masalahnya baru sama sekali, maka otak mulai berpkir mencari solusi. Otak berada dalam kondisi kritis. Sel-sel otak mulai melakukan mestakung. Mereka bekerja bersama-sama mencoba menggabungkan berbagai informasi yang sudah dimiliki untuk menghasilkan solusi. Ketika orang berpikir sangat keras, mestakung semakin kuat. Lalu, suatu saat hasil gabungan dari informasi yang dimiliki sel-sel otak ini memberikan solusi yang diinginkan, terjadilah pencerahan. Tiba-tiba didapatkan ide cemerlang untuk menyelesaikan masalah.

Disebutkan buku ini fisikawan abad 19, Herman von Helmholtz, membagi terjadinya proses kreatif dalam tiga tahap: saturasi, inkubasi (pengeraman ide), dan iluminasi (pencerahan). Di tahap saturasi otak dipenuhi berbagai masukan untuk menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi. Kemudian di masa inkubasi, menurut psikoanalisis, aktivitas otak terus berlangsung tetapi hanya di alam bawah sadar. Masa inkubasi ini tidak perlu terlalu lama (tergantung pada persoalan yang dihadapi). Setelah inkubasi, barulah muncul ide kreatif yang memberikan pencerahan untuk pemecahan masalah tersebut.

Melalui proses kreatif, konon begitu menemukan jawaban dari pertanyaan seputar keaslian emas mahkota raja, Archimedes berteriak-teriak “eureka...eureka!” (saya sudah temukan !) di jalan raya tanpa mengenakan pakaian...

Dipertanyakan..

Ditengah kelinglungan pemerintah dalam menentukan arah kebijakan pendidikan nasional, prinsip mestakung hadir sebagai tawaran metode pembelajaran yang menurut prof yohanes mampu mengantarkan siswa indonesia meraih penghargaan tertinggi di tingkat olimpiade fisika internasional.

Tentang metode pembelajaran hafalan dan berbagai keruwetan karena beratnya kurikulum SD hingga SMA, prof Dr Soedijarto menyoroti eksesnya. Soedijarto menilai pendekatan yang dilakukan ilmuwan Yohanes Surya untuk mempersiapkan pelajar Indonesia meraih Nobel Prize 2020 dengan sistem “diperam”, perlu dipertanyakan (Humaniora Kompas hal. 14, 30/01/07).

Menurutnya hanya dengan “kebebasan, gairah, dan kegembiraan mencari”, Einstein, Isaac Newton, juga Thomas Alva Edison yang tak suka belajar itu justru dibimbing curiosity yang bersumber dari “bermain-main”.

Namun bagaimanapun untuk melahirkan pikiran kreatif dibutuhkan waktu. Apa yang diungkapkan prof Yohanes Surya dalam buku ini adalah suatu pencapaian yang membutuhkan perjuangan panjang.

Ketika kita melangkah, ditengah jalan kita akan melihat ombak dan kuatnya terpaan angin. Ketekunan akan merangsang Mestakung sehingga apapun yang menjadi tujuan kita, niscaya akan kita capai. Tekun sampai garis finis, jangan berhenti atau menyerah di tengah jalan. Mestakung ?!.. jangan setengah-setengah .. . Hingga.. “eureka.. !”

Muhammad Yunus

Data Buku :

- Judul : Mestakung Rahasia Sukses Juara Dunia Olimpiade Fisika

- Penulis : Prof Yohanes Surya, Ph.D

- Penerbit : Hikmah

- cetakan : I, november 2006

- Tebal : x + 175

Read More...

pelataran perikanan  

Read More...

mahasiswa perikanan  

Mahasiswa perikanan yang kreatif


Sudah menjadi rutinitas bagi mahasiswa konsntrasi IPA bergelut dengan hal-hal teknis semisal praktek lapang dan praktek di laboratorium. Waktu begitu sempit tatkala mahasiswa dijejali dengan banyaknya tugas laporan yang pengerjaannya hanya 1 hingga 2 hari. Belum lagi tugas dosen yang menumpuk. Seminggu yang terdiri dari tujuh hari seakan hanya hitungan jam. Akhir pecan terkadang tak dapat dinikmati. Pasalnya masih ada tugas utama seperti mencuci dan bersih-bersih rumah ataupun kamar. bagi mereka yang merasakan hal ini,waktu betul bagaikan pedang. Terlambat sedikit, tugas baru bakal datang menusuk pikiran.

Dalam keterangannya di sebuah harian nasional, pengamat pendidikan Mochtar Buchori menilai kebijakan pendidikan nasional saat ini masih tidak jelas, memang. Hanya berkutat pada hal-hal yang sifatnya teknis, dan belum menyentuh persoalan-persoalan substansial. Bila seperti ini menurut mantan Rektor IKIP Muhammadiyah Jakarta, Indonesia bakal gagal menjadi bangsa karena tidak mampu menghasilkan generasi baru yang memiliki persepsi segar untuk menyelesaikan persoalan bangsa.

Kerinduan akan pendidikan yang otonom seakan masih jauh dari harapan. Akibat terlalu banyak kepentingan. Sehingga pendidikan tidak independent, dan dijadikan derivasi untuk pembangunan ekonomi. Yang tentu hanya menguntungkan segelintir orang saja. Akibatnya bermunculanlah pendidikan alternative.

Bagaimana menyikapinya ?.bagi kita mahasiswa perikanan saatnya mengembangkan daya kritis agar mampu masuk dalam kompetisi yang ditandai dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan saat ini. Jangan biarkan diri terpasung pada pendidikan yang konservatif. Hanya orang berduit saja yang mampu melanjutkan pendidikan.Praktik monopoli pendidikan sudah usang (ingat mengapa bermunculan pendidikan alternative ?). Pengetahuan mahasiswa strata satu tidak boleh melampaui strata dua dan seterusnya. Sadari bahwa praktik seperti itu sudah usang. Kalau mampu mengapa tidak?. Sekarang kita berada dalam era kolaborasi yang berlandaskan “keterbukaan”.

Kuncinya kreatif, inovatif dan kritis terhadap setiap perubahan. Pendidikan seharusnya tidak lagi membelenggu daya kreatif pembelajarnya. Karena hanya dengan “kemerdekaan” ilmu pengetahuan yang kita peroleh mampu menopang kemajuan dan pertumbuhan ekonomi bangsa, bukan sebaliknya.

Indonesia adalah Negara kepulauan yang kaya akan sumberdaya perikanan dan kelautannya. Sampai bangsa lain semisal jerman, Australia, jepang dan lainnya begitu tertarik datang jauh-jauh hanya untuk mempelajari potensi kepulauan dan perairan Indonesia. Tidak hanya itu, kultur dan bahasa kita pun diminati untuk dipelajari. Bagi kita bangsa yang dipelajari, bisa saja merasa bangga bahwa bangsa lain yang sudah maju tertarik akan kekayan alam dan budaya kita. Namun di lain pihak kita perlu berpikir cepat. tidak tinggal diam saja saat bangsa lain sudah paham, mengerti dan menguasai cara berpikir dan tindakan kita. Bila kekayaan yang kita miliki tidak terkontrol, jangan heran kalau kita atau anak cucu kita nantinya bakal membeli mahal hasil sumber daya alam kita sendiri karena nilai tambah dari pengolahan dan pemasarannya dikuasai bangsa lain.

Berpikir Glokal

Saatnya manusia andalan Negara tercinta ini mengembangkan pengetahuannya sehingga tetap berperan sebagai tuan rumah di rumah sendiri. Mengembangkan diri dan mampu berkompetisi dengan bangsa lain. Untuk itu mari berpikir ‘glokal’, yaitu menguasai cara piker dan perilaku local untuk memenangkan kompetisi global. Tidak harus menjadi kebarat-baratan untuk meng-glokal. Tidak perlu selalu berorientasi ke luar negeri sampai bersikap seperti “kacang akan lupa kulitnya”.

Saat bule-bule mempelajari budaya dan potensi sumber daya alam kepulauan dan perairan spermonde misalnya, kita cuek saja melihat tindakan dan prilaku mereka. Bahkan tidak berminat. Inilah sikap yang merupakan awal kekalahan kita dari bangsa lain. Kita mesti jagoan di rumah sendiri, tahu detil Negara sendiri. Update dengan hasil penelitian sumber daya negeri sendiri dan kenal bagaimana cara mengembangkannya. Cara kita mengembangkan inilah yang membutuhkan kesesejaran dengan dunia luar. Di sinilah fungsi pendidikan. Mengajarkan keterampilan, kefasihan dan kelancaran mengakses dunia luar. Mengajarkan kepemimpinan dan mempengaruhi bangsa lain melalui kekuatan bekomunikasi, mendengar, meriset dan mengemukakan pendapat. Saatnya berpikir bahwa kita adalah pemain global, melihat dunia sebagai dusun global yang tidak berbatas. Karena hanya dengan berpikir global kita mampu mengembangkan dan memenuhi kebutuhan local. Dan dengan itu kitapun mampu mendirikan industri yang berbasiskan kreativitas, keahlian dan bakat individual. Tidak menjadi tamu di rumah sendiri. Cayoo..!!!

(Terinspirasi dari rubrik Karier harian kompas dan ditulis saat PKL 72 hari di Barru bersama “Eryl bin Saharuddin”)

Read More...